KETAKUTAN YANG BENAR

Keluaran 15:6-11

“Siapakah yang seperti Engkau, di antara para allah, ya TUHAN; siapakah seperti Engkau, mulia karena kekudusan-Mu, menakutkan karena perbuatan-Mu yang masyhur, Engkau pembuat keajaiban?” (Kel. 15:11)

Kapan terakhir kali kita merasa takut? Apakah ketika kita terjebak di dalam lift yang macet? Ataukah ketika kita didiagnosis mengidap penyakit ganas yang tak tersembuhkan? Ataukah ketika kita tidak tahu lagi dari mana kita bisa mendapatkan uang untuk membayar sekolah anak-anak?
Dalam pujian yang dilantunkan Musa dan bangsa Israel, mereka berseru bahwa sebenarnya tidak ada hal di dunia ini yang perlu kita takuti, kecuali Tuhan Allah sendiri. Teolog Rudolf Otto menggambarkan Allah sebagai sebuah realita yang bersifat “tremendum et fascinans”—membuat gemetar dan sekaligus membuat kagum.
Jika kita menghadap Tuhan dengan kesungguhan hati, kita memang akan merasa takut. Kita gemetar karena tangan kanan Tuhan sanggup “menghancurkan musuh” (ay. 6). Ia juga sanggup “meruntuhkan siapa yang bangkit menentang [Dia]; [Dia] melepaskan api murka-[Nya], yang memakan mereka sebagai tunggul gandum” (ay. 7). Allah seperti itu memang sudah sepantasnya membuat kita takut.
Persoalannya, sering kali situasinya justru terbalik-balik. Kita takut pada apa yang seharusnya tidak kita takuti, dan kita tidak takut pada apa yang seharusnya kita takuti. Kita takut pada atasan kita yang meminta kita ikut terlibat dalam korupsi di kantor. Kita takut pada masa depan kita dan kematian kita. Namun, kita justru tidak takut pada Tuhan. Jika demikian halnya, sudah saatnya kita bertobat.

REFLEKSI:
Ketakutan yang benar adalah ketakutan yang membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.