ANTARA IMAN DAN TRADISI

1 Timotius 4:6-16

Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua.
Latihlah dirimu beribadah.
(1Tim. 4:7)

“Jangan begini, jangan begitu.” Demikianlah larangan orangtua saya ketika istri saya tengah mengandung anak kami. “Mengapa?” tanya saya. “Sudah begitu tradisinya ….” Itulah jawaban pamungkas yang menghentikan diskusi kami.

Kita hidup dengan banyak tradisi nenek moyang. Dari jabang bayi sampai masuk kuburan, semuanya tidak luput dari tradisi. Di satu sisi, tradisi mengembangkan keterikatan sosial dan membangun keteraturan hidup. Namun, di sisi lain, tradisi sering memecah konsentrasi iman seseorang pada Tuhan. Antara iman dan tradisi, kita terpaksa mengakui bahwa iman lebih sering dikalahkan saat tradisi berkata lain. Kepada Timotius, Rasul Paulus berpesan, “Latihlah dirimu beribadah.” Mengapa? Karena ibadah membangun kebiasaan yang positif dan mengasah iman kita makin kokoh. Dengan melatih kedekatan, pengenalan, keterikatan, dan ketergantungan pada Tuhan, kita mampu mengatasi “persaingan antara iman dan tradisi” dengan sikap tepat dan hati bijaksana.

Keterikatan pada Tuhan adalah kunci hidup beriman. Keterikatan itu yang menjaga seseorang tidak terombang-ambing dan tersesat dalam pengaruh dunia yang kuat ini. Keterikatan itu hanya bisa terjadi ketika kita melatih diri kita berfokus kepada Kristus dalam segala hal. Belajar percaya dan memercayakan diri utuh kepada-Nya. Itulah sikap iman yang menjaga kita tetap setia sekaligus bijak menyikapi tradisi di sekitar kita.

DOA:

Bapa, ajari kami hikmat-Mu agar kami mampu hidup
di bawah naungan anugerah-Mu. Amin.