KASIH ITU TERTUJU KEPADA ALLAH

Matius 7:7-11

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga!”

(Mat. 7:11)

Ini adalah pengalaman anak pertama saya masuk sekolah. Dia minta dibawakan tas dan beberapa mainan yang menurut saya tidak penting. Saya melarangnya dan itu membuatnya menangis. Akhirnya saya memilih diam ketimbang dia kehilangan sukacita. Di sekolah, dia memamerkan mainannya kepada temannya. Karena tidak ada yang merespons, akhirnya mainan itu dimasukkan lagi ke dalam tasnya.

Hidup kita juga begitu. Tuhan mungkin lebih dari satu kali berkata kepada kita bahwa segala sesuatu yang kita minta dan inginkan itu tidak penting. Namun, kita mulai merengek seolah-olah semua yang kita inginkan itulah yang paling penting. Banyak orang hidup seperti itu ingin membawa semuanya dalam hidupnya, padahal tidak diperlukannya. Yesus mengatakan bahwa tidak ada bapak yang memberikan batu kepada anaknya ketika meminta roti. Bahkan bapak yang jahat sekalipun mengerti apa yang dibutuhkan anaknya (ay. 11). Masalah dalam hidup bukanlah karena Tuhan tidak mau memberi, tetapi karena kita merasa tahu yang baik menurut diri kita sendiri. Ini karakter dosa sejak awal (Kej. 3). Hal ini yang menjadikan kita tidak dapat bersyukur. Dengan semua keinginan yang hanya tertuju pada diri sendiri itu, kita mau menentukan semua sendiri. Jika demikian, tampaklah bahwa kasih kita tidak tertuju kepada Allah.

Belajarlah bersyukur kalau memang kasih Anda itu tertuju kepada Allah dan bukan kepada diri sendiri.

 DOA:

Tuhan, ajar kami mengasihi-Mu dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi kami. Amin.