MENJADI SAUNG

Matius 12:15b-21

Di tengah persawahan biasanya ada saung kecil. Saung itu tempat petani beristirahat dari kelelahan atau berteduh dari hujan atau cuaca buruk. Saung di pematang sawah itu membuat persawahan itu tampak makin asri, menyejukkan, menenangkan. Walaupun kecil, saung itu sungguh membuat rasa nyaman orang yang melihatnya, apalagi yang berteduh di dalamnya.

Itulah Tuhan Yesus. Ia seperti saung di pematang sawah, tempat perteduhan yang menenangkan dan memulihkan. Yesus membuat orang yang lelah, lemah, dan hampir hilang asa menjadi pulih kembali. Yesus tidak mematahkan buluh yang terkulai. Buluh yang terkulai menggambarkan orang berdosa yang benar-benar menyesal. Sumbu yang pudar adalah sumbu lampu yang hampir kehabisan bahan bakarnya sebagai lambang orang yang lemah dalam kesaksian imannya. Buluh yang terkulai tidak akan dipatahkan-Nya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya. Sebaliknya, Ia justru membuatnya menjadi pulih kembali, tidak lagi terkulai dan pudar. Yesus tidak menyingkirkan orang yang lemah. Ia justru memulihkan yang lemah dan pudar.

Tempat apakah kita ini? Tempat orang menjadi kecewa? Tempat orang menagih janji? Algojo yang menghabisi segala perkara dengan tangan besi? Kita dipanggil untuk menjadi seperti Yesus, yaitu tempat orang mendapatkan kekuatan dan semangatnya kembali. Menjadi saung bagi orang yang letih dan pudar.

REFLEKSI:

Jadilah saung buat semua orang yang ada di sekitar kita.