KETIKA KEBUN YANG INDAH ITU RUSAK

Kidung Agung 2:8-17

Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur, kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga!

(Kid. 2:15)

Indonesia adalah sebuah model kerukunan umat beragama yang dapat dicontoh oleh negeri lain. Pujian ini disampaikan Paus Yohanes Paulus II ketika berkunjung ke Indonesia. Namun, kerukunan itu runtuh setelah terjadi kerusuhan besar di seluruh negeri. Pada awal 1999, sebuah kericuhan kecil dengan cepat menyebar dan membakar seluruh kota Ambon. Kejadian itu segera menjalar ke seluruh negeri ini. Indonesia yang dikenal cantik dan damai telah terbakar oleh api kebencian, kemarahan, dan angkara murka yang dipicu oleh beberapa alasan, antara lain agama. Akibatnya, ratusan gedung gereja dibakar dan dirusak. Ratusan orang tewas sia-sia. Ribuan orang menjadi pengungsi. Itulah yang terjadi apabila keragaman atau kemajemukan tidak dijaga dengan baik.

Kidung Agung adalah nyanyian cinta antara sepasang insan. Keduanya sedang dimabuk asmara. Suasana yang indah dan romantis itu terganggu oleh ulah sekelompok rubah liar. Rubah-rubah liar itu menginjak-injak dan merusak semua kebun anggur yang sedang berbunga. Pengantin perempuan meminta supaya kekasihnya mengusir dan menangkap rubah-rubah liar itu.

Kita umat Kristen tidak boleh tinggal diam ketika rajutan kerukunan yang pernah ada itu menjadi rusak, diinjak-injak, dan diobok-obok oleh “rubah-rubah liar.” Kita harus berupaya dengan segala kemampuan untuk menjaga kebun dan taman kita tetap lestari dan aman dari “rubah-rubah” itu.

REFLEKSI:

Kita harus bertindak proaktif untuk membangun hubungan kerja sama dengan siapa pun untuk menjaga Indonesia tetap damai dan aman bagi semua orang.