1 Samuel 4:1b-11
“Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia.”(Yos. 24:14)
Suatu malam, ayah, ibu, dan tiga orang anaknya pergi ke sebuah rumah makan untuk menjalin kebersamaan. Namun, apakah mereka benar-benar menjalani kebersamaan? Saat diperhatikan, ternyata tidak banyak kata-kata akrab yang keluar dari mulut mereka. Mata setiap orang tertuju pada telepon seluler masing-masing. Mereka duduk bersama, tetapi setiap orang sibuk berinteraksi dengan orang lain di luar rumah makan itu.
Umat Israel salah memahami keberadaan tabut perjanjian. Mereka mengidentikkan tabut sebagai kehadiran Tuhan bersama mereka. Mereka sangat bersemangat berperang saat tabut berada dekat mereka. Mereka lupa bahwa tabut perjanjian bukanlah Tuhan. Mereka mengalami kekalahan yang hebat. Sekalipun tabut itu ada bersama mereka, Tuhan sesungguhnya tidak bersama mereka.
Telepon seluler dan peralatan teknologi komunikasi lainnya sebenarnya hanyalah benda mati. Namun, barang-barang itu telah mengambil sebagian besar konsentrasi manusia. Tanpa disadari manusia menjadi makin tergantung pada barang-barang seperti itu. Apakah kita harus menjadi anti terhadap kehadiran perangkat teknologi? Sebenarnya tidak ada yang salah dengan teknologi. Teknologi bisa menolong manusia. Yang menjadi persoalan adalah ketika kehadiran teknologi justru mengambil alih relasi kita dengan Tuhan dan sesama kita. Bisakah kita menjadi pengguna teknologi tanpa harus diperbudak olehnya?
DOA:
Tuhan, ajarlah kami agar selalu menempatkan Engkau sebagai pusat hidup kami. Amin.






