By Julianto Simanjuntak**
“Jika Anda sudah tidak lagi bisa berbicara kepada anakmu tentang Tuhan, berbicaralah sesering mungkin kepada Tuhan tentang anakmu”
Di ruang konseling kami beberapa ortu mengeluhkan entang anak remaja mereka. Si Ayah atau Ibu “puyeng”, sedih hingga putus asa menghadapi konflik dengan anak mereka. Sebaliknya tidak sedikit remaja yang mengeluhkan sikap dan perlakuan Ortu mereka. Komunikasi macet dan saling tidak memahami. Tak jarang si remaja meninggalkan rumah. Itulah sebagian kasus yang kami hadapi
Beberapa remaja mengeluhkan, ortu tidak bisa menjadi sahabat. Akhirnya mereka mencoba menemukan teman lewat chatting di dunia sosial media. Sebagian lain menemukan di dunia game, off line atau online. Di sisi lain ortu merasa anak remaja mereka makin tidak taat, tidak mau diatur dan cenderung melawan. Mereka tergoda mendiamkan si anak, hingga membeda-bedakan dengan adik atau kakaknya.
Mengelola konflik ini tidak selalu mudah. Butuh proses, dan kemauan untuk bekerjasama antara ortu dan si remaja. Bahkan dalam beberapa kasus memerlukan mediator atau konselor.
Salah satu saran kami untuk Ortu adalah berusaha membangun jembatan komunikasi. Mengambil hati si anak. Sedapat mungkin membangun rasa disayang dalam diri anak, Perasaan berarti dan hubungan batin yang kuat.
Kaum psikolog sepakat bahwa kebutuhan mendasar anak remaja adalah perasaan dicintai orangtua mereka. Anak akan tumbuh dengan sangat baik ketika mereka mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibu mereka. Pernyataan cinta secara emosi merupakan jembatan komunikasi yang baik, pintu masuk membangun relasi dengan mereka.
Ironisnya ortu sering merasa sudah memberi yang terbaik, namun si anak tidak merasakan apapun. Salah satu sebabnya orangtua tidak tahu bagaimana mengkomunikasikan cinta mereka pada anak-anak. Terutama pada level emosi.
KEBUTUHAN DASAR REMAJA
Ada tiga kebutuhan mendasar Remaja: perasaan terhubung, perasaan diterima dan dipedulikan ortunya. Inilah tiga wujud cinta yang paling dirasakan dampaknya dalam hidup remaja.
Jika tiga hal ini tidak mereka rasakan bisa menyebabkan gelas cinta mereka kosong. Kekosongan inilah akan mempengaruhi tingkah laku mereka di masa remaja. Kuatirnya, mereka akan mencari cinta di tempat yang salah, lewat pergaulan yang tidak bertanggungjawab.
<strong>Pertama, perasaan terhubung.</strong>
Perasaan ini terpenuhi lewat kehadiran orangtua di rumah. Terbentuknya ikatan emosi anak dengan ortu sejak dini. Jika ini terjadi sejak kecil maka perkembangan emosi anak anak akan bertumbuh sehat. Tumbuh dengan perasaan nyaman.
Sebaliknya jika anak tidak mendapatkannya, anak tumbuh dengan jiwa tidak aman. Ini bisa kita lihat dalam beberapa kasus anak yang ditinggal mati orangtua sejak bayi atau ortu bercerai. Ikatan emosi ini tidak mudah tergantikan. Kecuali ada seseorang yang benar-benar memberikan kash sayang yang cukup, seperti Oma atau lainnya.
Prasyarat ikatan emosi ini adalah kehadiran orangtua. Ini membutuhkan waktu bersama-sama, baik berkualitas maupun jumlah waktu. Jika orangtua hanya memberi waktu sedikit dapat membahayakan perasaan keterhubungan. Anak akan merasa diabaikan. Bisa muncul dalam hatinya, “Apa yang salah dengan aku sehingga ortu-ku tidak peduli dengan aku?”
Perlu diingat pula kedekatan fisik ortu dan remaja tidak langsung menghasilkan kedekatan hati. Sebab bisa saja ortu tinggal serumah dengan anak-anak seharian tetapi sedikit berkomunikasi. Maka tetap saja tidak membentuk keterhubungan emosi.
<strong>Kedua, butuh diterima.</strong>
Elemen kedua dari cinta emosi adalah merasa diterima orangtua. Ini hal yang paling disukai anak dari orangtua mereka. Saat ortu mereka menerima mereka apa adanya. Baik kelebihan maupun kelemahan. Serta ortu yang tidak membandingkan anak dengan kakak atau abangnya.
Lawannya adalah perasaan ditolak. Penolakan bisa menimbulkan rasa rendah diri, hingga bingung dengan identitas seksual. Penolakan adalah sebuah racun psikologis yang sangat merusak ke dalam sistem emosi anak. Anak menjadi mudah marah dan sulit mengendalikannya. Bahkan ini bisa jadi bahan anak remaja melakukan kekerasan.
Tanpa disadari ada satu mitos yang berkembang dalam pikiran ortu. Mereka berpikir bahwa menerima anak dapat membuat meeka keras kepala dan manja. Khususnya saat anak suka melawan, nakal dan menjengkelkan. Mereka sulit mengerti bagaimana bisa menerima anak demikian. Cocoknya ya dihukum.
Memaafkan kesalahan kita dan memperbaikinya. Saat menghadapi anak yang tdak berkenan di hati kita karena melawan dan sebagainya, sebagai ortu kita perlu beajar mengkomunikasikan pada mereka bahwa kita bahagia menjadi ortu mereka, meski mereka kadang-kadang nakal.
<strong>Ketiga, kebutuhan pengasuhan.</strong>
Orangtua terpanggil merawat dan mengasuh anak. Merawat atau mengasuh dengan mengembangkan iklim yang baik untuk mereka tumbuh. Diantaranya menjadi orangtua yang hangat, penuh perhatian dan suka berbicara secara positif pada remaja. Hindarilah kekerasan termasuk sikap memushi dan mendiamkan anak. Bersikap kasar dan mencela anak baik dengan atau maupun sikap. Ini bisa menjadi semacam racun yang merusak seluruh jiwa anak.
Luka batin anak karena sikap kita yang kasar bisa bertahan dalam jiwa anak seumur hidup mereka. Menyisakan trauma mendalam. Kalau tidak ada pemulihan, ada yang terjerumus mencari penyembuhan lewat drugs, free-sex, mencuri, dlsb. Sebab kekerasan ortu membuat mereka merasa ambivalen atau perasaan mendua pada ortu. Satu sisi sayang, sisi lain benci. <a href=”http://juliantosimanjuntak.com/articles/parenting/265-mengambil-hati-remaja.html”>Bersambung </a>
<a href=”http://www.juliantosimanjuntak.com/”>Bang JS </a> || <a href=”http://twitter.com/juliantowita”>Twitter </a> ||






