Tokoh masyarakat yang sedang disoroti saat ini adalah menteri BUMN, Dahlan Iskan dan Ketua KPK baru, Abraham Samad. Keduanya memang unik dan menjadi harapan masyarakat paling tidak masih ada cahaya di tengah kegelapan yang ada. Bagaimana tidak luar biasa, para menteri yang biasa tampil “mentereng”, tapi yang satu ini nyantai saja bahkan langsung terjun ke lapangan tanpa pengawalan atau pengumuman sebelumnya. Jadi semua dibuat kagum olehnya. Demikian juga ketua KPK yang termuda ini, dengan semangat gebrakan yang luar biasa membuat orang berharap padanya untuk menyelesaikan masalah yang tidak pernah selesai. Ketika ditantang dengan pertanyaan apakah tidak takut, dia langsung menjawab dengan tegas “saudara sendiripun kalau salah akan saya gantung.”. Wow…..luar biasa bukan?
Tapi benarkah itu hal yang luar biasa? Bukankah itu suatu yang seharusnya dan biasa? Bukankah menteri yang turun ke bawah seharusnya hal BIASA. Ketua KPK bertindak tegas adalah hal BIASA dan seharusnya. Mengapa hal yang biasa dan seharusnya sudah menjadi hal yang luar biasa dan aneh? Ini berarti sistem tata nilai dalam masyarakat kita yang sudah aneh. Saya katakan aneh karena orang buat yang baik jadi luar biasa, sedangkan orang yang buat jahat sudah biasa.
Saya langsung teringat ketika Yesus menghadapi para tokoh agama yang cenderung munafik. Ketika Yesus menolong orang yang sedang sakit malah dipermalahkan dengan alasan bertentangan dengan hukum sabat. Ketika Yesus mengajarkan tentang kebenaran, malah ditentang. Intinya cuma satu, karena mereka takut kehilangan pengikut dan pengaruh. Mereka tetap mempertahankan nilai-nilai tersebut untuk kepentingan karir dan pribadi mereka.
Sejak kapan pola hidup seperti ini juga ada di masyarat kita? Tidak ada yang tahu. Tapi yang jelas itu dimulai dari membiasakan hal yang tidak biasa. Seorang pelajar yang belajar untuk mencontek, akan merasa berdebar dan ketakutan ketika mencontek pertama kali. Untuk kedua dan ketiga kali akan lebih tenang. Lama kelamaan mencontek adalah hal yang biasa (bahkan sudah tidak merasa bersalah). Akhirnya kalau melihat orang tidak mencontek malah aneh. Jadi tidak heran akhirnya terciptalah pola kehidupan dimana orang hidup jujur akan sulit, orang yang tulus akan dipermasalahkan, orang yang tidak korupsi dianggap aneh. Itu terjadi karena sudah tercipta pola hidup yang terbalik: yang biasa jadi luar biasa dan yang seharusnya jadi aneh.
Jadi bukanlah pekerjaan yang mudah untuk merubah struktur yang memiliki pola hidup seperti ini. Dibutuhkan perubahan mental dan pola pikir yang dikembalikan kepada yang seharusnya dimana orang buat baik menjadi biasa dan orang buat jahat menjadi aneh. Pekerjaan ini tentu perlu dikerjakan oleh semua pihak: pemerintah, parpol bahkan sampai kepada keluarga dan perorangan.
Mari jadikan sesuatu yang baik menjadi biasa dan yang jahat jadi aneh !
Salam
Johan Kusmanto







Syalom pak Johan Kuswanto,
Trima kasih anda telah membuat tulisan singkat, padat namun tajam berjudul ” Ketika yang biasa jadi luar biasa dan yang seharusnya jadi aneh”. Doa saya semoga tulisan anda menjadi coaching dan sentilan pembelajaran hati nurani bangsa dan negara kita, khususnya semua pemimpin yang masih bermental dan berpola pikir aji mumpung, ora edan ora mangan, ora edan ora kaya, ora edan ora sukses! Slamat menulis dan berkarya menjadi terang bagi bangsa yang kita cintai. Saya tunggu tulisan-tulisan berikutnya. Selamat memasuki minggu advent yang ketiga.
Pdt. Noch Moningka
Thanks Pak Moningka untuk komentarnya. Jika ada tulisan-tulisan Pak Moningka yang bisa memberkati kita semua, silahkan bergabung untuk berbagi.